Review Komik Bouryoku Banzai

review-komik-bouryoku-banzai

Review Komik Bouryoku Banzai. Di akhir 2025, ketika manga action sekolah lagi banjir dengan trope “lemah jadi kuat”, Bouryoku Banzai muncul sebagai angin segar yang brutal sekaligus absurd. Serialisasi di majalah mingguan sejak awal 2024, karya duo Kawamoto Homura—bekas kreator judi berbahaya—dan Nadai Nishi ini sudah lewat 30 chapter dan masih bikin pembaca campur aduk antara ketawa dan merinding. Cerita soal cowok pintar yang anti-konflik ketemu cewek supremasis kekerasan, lalu pelan-pelan terhisap ke dunia pukul-memukul tanpa ampun. Bukan cuma soal tinju, tapi soal gimana kekerasan bisa ubah orang dari pengecut jadi… entah apa. Hampir dua tahun berlalu, seri ini tetap jadi obrolan hangat di forum, terutama karena karakternya yang bikin penasaran meski plotnya kadang terasa mentah. INFO CASINO

Premis yang Langsung Nendang: Review Komik Bouryoku Banzai

Masamichi Akita, siswa SMA yang motto hidupnya “hidup bijak, hindari masalah”, tiba-tiba terjerat preman sekolah. Untungnya, Setsuna Rikudou muncul seperti badai: cewek cantik tapi ganas yang hajar lawan tanpa ragu. Akita kagum sama kekuatannya, minta diajarin bertarung. Tapi Rikudou langsung bilang, “Kekerasan adalah satu-satunya aturan di dunia ini.” Dari situ, Akita terseret ke dunia kekerasan jalanan, turnamen bawah tanah, dan konflik yang bikin dia mulai berubah. Premisnya sederhana, mirip banyak manga bela diri, tapi twistnya ada di filosofi Rikudou: dia nggak punya alasan mulia buat bertarung, nggak ada trauma masa kecil yang bikin dia begitu, cuma suka aja. Itu bikin cerita terasa liar dan tak terduga, apalagi di chapter awal di mana Akita masih coba-coba pukul sambil mikir “ini salah besar”.

Karakter Utama yang Bikin Greget: Review Komik Bouryoku Banzai

Akita adalah MC yang relatable banget buat yang suka hindari drama: pintar, tapi lemah fisik dan mental. Lambat laun, dia mulai berubah—dari yang lari dari masalah jadi yang ikut campur, meski masih ragu-ragu. Perkembangannya pelan, tapi terasa nyata, terutama saat dia mulai rasain adrenalin kekerasan. Tapi bintang sebenarnya adalah Rikudou: cewek yang gorgeous tapi sadis, nggak ada prinsip, mau tusuk dari belakang atau tendang selangkangan, semuanya oke selama menang. Dia nggak seperti heroine yakuza biasa yang punya kode etik; dia murni kekerasan berbentuk manusia. Sayangnya, backstory-nya masih misterius setelah 30 chapter—nggak ada hint trauma atau motivasi dalam, cuma aksi yang bikin pembaca penasaran “siapa sebenarnya cewek ini?”. Side character masih minim, tapi yang ada seperti preman sekolah atau rival turnamen mulai nunjukin potensi di chapter terbaru.

Aksi dan Humor yang Brutal

Aksi di sini nggak main-main: pukulan cepat, darah berceceran, dan koreografi yang terasa mentah tapi memuaskan. Gambar Nadai Nishi kasih detail otot tegang dan ekspresi sakit yang bikin panel-panel bertarung hidup. Tapi yang bikin beda, ada humor gelap yang nyelinap—seperti Akita yang coba tiru Rikudou tapi malah kena balik, atau Rikudou yang komentar santai pas hajar orang “ini cuma pemanasan”. Pacingnya cepat, jarang filler, dengan cliffhanger tiap chapter yang bikin scroll otomatis. Di arc turnamen chapter 25-30, pertarungan makin intens, campur strategi Akita yang pintar dengan kekerasan buta Rikudou. Tapi kritiknya, plot kadang kurang sophisticated—setup konflik terasa predictable, dan nggak ada cast berwarna-warni yang bikin cerita lebih dalam.

Tema Kekerasan yang Bikin Mikir

Di balik tinju dan darah, seri ini nanya: kekerasan beneran aturan utama dunia? Akita yang awalnya anti-kekerasan pelan-pelan tergoda, nunjukin gimana lingkungan bisa ubah orang. Rikudou jadi simbol supremasi kekerasan tanpa batas, tanpa tujuan heroik—dia bertarung karena bisa, dan itu bikin pembaca debat: apakah dia villain atau guru yang brutal? Tema ini mirip seri bela diri lain, tapi dieksekusi dengan nada absurd yang bikin nggak terlalu berat. Di chapter terbaru November 2025, Akita mulai tantang filosofi Rikudou, buka ruang buat konflik internal yang lebih dalam. Buat pembaca yang suka Kengan Ashura atau seri cewek fighter gila, ini pas banget.

Kesimpulan

Bouryoku Banzai bukan manga sempurna—plotnya mentah, karakter pendukung kurang, dan Rikudou kadang terasa lebih kayak alat narasi daripada orang sungguhan. Tapi justru itulah pesonanya: brutal, lucu, dan bikin penasaran soal arah cerita. Di 2025 ini, dengan chapter mingguan yang masih gas pol, seri ini cocok buat yang lagi cari action ringan tapi punya gigitan tajam. Kalau kamu suka cewek sadis yang bikin MC berubah, atau cuma pengen ketawa liat pukulan konyol, nyemplung aja dari chapter satu. Siapa tahu, setelah baca, kamu mulai mikir kekerasan emang satu-satunya aturan—atau setidaknya, satu-satunya cara Akita bertahan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *