Review Komik Girls of the Wild’s. Di awal 2026, Girls of the Wild’s tetap menjadi salah satu manhwa aksi sekolah paling ikonik dan sering dibaca ulang oleh penggemar genre fighting romansa. Dirilis pertama kali sekitar 2011 dan selesai beberapa tahun lalu, komik ini kembali naik daun setelah diskusi online yang masif pasca ulang tahun ke-15 cerita utama akhir 2025 serta munculnya adaptasi fan-project dan cover baru di komunitas. Girls of the Wild’s bukan sekadar cerita cowok lemah di sekolah cewek; ia adalah perpaduan sempurna antara aksi brutal, romansa remaja yang manis, dan kritik ringan terhadap stereotip gender serta hierarki sosial di lingkungan sekolah. Dengan protagonis Song Jae-gu—petinju jalanan yang terpaksa masuk sekolah khusus perempuan—komik ini berhasil menarik jutaan pembaca dengan campuran kekerasan, humor, dan chemistry antar karakter yang sulit dilupakan. Meski sudah lama tamat, ia masih jadi benchmark bagi manhwa high-school yang menggabungkan otot dan hati. BERITA OLAHRAGA
Plot yang Menggabungkan Aksi dan Romansa dengan Baik: Review Komik Girls of the Wild’s
Cerita Girls of the Wild’s dimulai ketika Song Jae-gu, remaja miskin yang bekerja sebagai petinju untuk menghidupi adiknya, mendapat beasiswa penuh ke sekolah elit khusus perempuan. Di sana ia jadi satu-satunya cowok di antara ratusan siswi cantik dan kuat, termasuk anggota klub tinju putri yang legendaris. Awalnya Jae-gu hanya ingin bertahan hidup dan lulus, tapi perlahan ia terlibat dalam konflik sekolah: perebutan posisi di klub tinju, rivalitas antar klub, dan ancaman dari luar seperti geng jalanan.
Plotnya bergerak cepat dengan arc-arc yang saling terhubung. Dari pertarungan satu lawan satu di ring hingga perang antar sekolah, dari momen lucu sehari-hari di asrama cewek hingga drama romansa yang pelan-pelan berkembang. Yang membuatnya menarik adalah bagaimana penulis tidak memisahkan aksi dan romansa; setiap fight punya dampak emosional, dan setiap momen manis sering diikuti kekerasan. Arc terakhir, yang berfokus pada turnamen besar dan masa lalu Jae-gu, memberikan penutupan yang memuaskan tanpa terasa terburu-buru. Di 2026, ketika banyak manhwa modern kehilangan momentum di akhir, Girls of the Wild’s masih terasa solid karena struktur ceritanya yang rapi dan tidak bertele-tele.
Karakter yang Kuat dan Chemistry yang Alami: Review Komik Girls of the Wild’s
Karakter adalah alasan utama komik ini bertahan lama di hati pembaca. Song Jae-gu bukan tipe protagonis overpowered; ia kuat karena latihan keras, tapi tetap punya kelemahan emosional—terutama rasa tanggung jawab terhadap adiknya dan trauma masa lalu. Perkembangannya terasa nyata: dari cowok cuek yang hanya fokus bertahan jadi seseorang yang belajar peduli pada orang lain.
Para cewek di klub tinju juga punya kepribadian yang beragam dan kuat. Choi Dal-dal yang energik dan setia, Yoon In-gyeong yang dingin tapi peduli, serta ketua klub yang misterius—semuanya punya backstory yang membuat mereka lebih dari sekadar “gadis cantik yang jago bertarung”. Romansa utama berkembang pelan dan alami, tanpa drama berlebihan; chemistry antara Jae-gu dan pasangannya terasa hangat karena dibangun melalui momen kecil seperti latihan bersama atau saling melindungi. Bahkan karakter sampingan seperti teman Jae-gu dari dunia tinju jalanan punya peran yang bermakna, menambah kedalaman dunia cerita.
Aksi yang Brutal dan Seni yang Dinamis
Adegan pertarungan di Girls of the Wild’s termasuk yang paling memuaskan di manhwa aksi sekolah era 2010-an. Koreografinya realistis: pukulan tinju punya bobot, gerakan kaki dan pertahanan terlihat dipikirkan, dan tidak ada teknik ajaib yang tiba-tiba muncul. Jae-gu sering menang karena pengalaman jalanan dan ketahanan mental, bukan karena lebih kuat secara mutlak. Fight antar cewek juga tidak kalah ganas—mereka bertarung dengan gaya yang berbeda, membuat setiap duel terasa unik.
Seni panelnya dinamis dan ekspresif. Sudut pandang dramatis, close-up wajah saat terkena pukulan, dan efek gerak yang kuat membuat aksi terasa hidup. Desain karakter cewek yang cantik tapi tidak berlebihan menambah daya tarik visual, sementara adegan sehari-hari seperti makan bersama atau latihan pagi terasa hangat dan relatable. Warna kontras tinggi di adegan malam atau ring tinju menambah intensitas, dan konsistensi gambar tetap tinggi sepanjang cerita.
Kesimpulan
Girls of the Wild’s adalah manhwa yang berhasil menggabungkan aksi tinju brutal dengan romansa remaja yang manis dan kritik ringan terhadap stereotip gender. Song Jae-gu dan para cewek di sekolah elit memberikan cerita yang menghibur sekaligus menyentuh, dengan plot yang seimbang, karakter yang kuat, dan pertarungan yang memuaskan. Meski sudah lama tamat, komik ini masih terasa segar di 2026, sering direkomendasikan bagi penggemar genre high-school fighting yang ingin sesuatu lebih dari sekadar adu kuat. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati datang dari latihan keras, tanggung jawab, dan orang-orang yang ada di sisi kita. Bagi pembaca lama maupun yang baru menemukannya, Girls of the Wild’s bukan sekadar manhwa; ia adalah pengalaman yang penuh adrenalin, tawa, dan hati hangat. Karya ini terus membuktikan bahwa cerita sederhana dengan eksekusi yang tepat bisa bertahan lama dan menyentuh jutaan orang.