Review Komik I Want to Eat Your Pancreas

review-komik-i-want-to-eat-your-pancreas

Review Komik I Want to Eat Your Pancreas. Komik I Want to Eat Your Pancreas (karya Yoru Sumino, diadaptasi menjadi manga oleh Kirie) tetap menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam genre drama emosional Jepang modern. Awalnya terbit sebagai novel web pada 2014, kemudian diadaptasi menjadi manga dan dua film animasi berbeda, cerita ini mengikuti hubungan tak terduga antara seorang siswa SMA yang apatis bernama “Haruki” dan teman sekelasnya Sakura Yamauchi yang menderita penyakit pankreas mematikan. Judul yang kontroversial dan metaforis itu sebenarnya berasal dari ungkapan Sakura sendiri yang ingin “dimakan” oleh Haruki—sebuah cara unik untuk mengatakan bahwa ia ingin meninggalkan bagian dari dirinya di dalam orang lain. Komik ini bukan sekadar cerita tentang penyakit atau kematian; ia adalah refleksi tajam tentang hidup, kematian, hubungan manusia, dan nilai waktu yang terbatas. BERITA OLAHRAGA

Gaya Narasi yang Sederhana Namun Sangat Menyentuh: Review Komik I Want to Eat Your Pancreas

Salah satu kekuatan utama I Want to Eat Your Pancreas terletak pada kesederhanaan narasinya yang justru membuat emosi terasa lebih kuat. Cerita disampaikan dari sudut pandang Haruki—seorang remaja yang cenderung menjaga jarak emosional dari orang lain dan lebih suka membaca buku daripada berinteraksi. Ketika ia secara tak sengaja mengetahui rahasia penyakit Sakura, hubungan mereka yang awalnya dingin perlahan berubah menjadi ikatan yang sangat personal. Sakura digambarkan sebagai gadis yang ceria, ramah, dan penuh semangat hidup—kebalikan total dari Haruki—meski ia tahu waktunya terbatas.

Gaya bercerita yang ringkas dan minim drama berlebihan membuat pembaca merasa seperti sedang membaca diary pribadi Haruki. Tidak ada adegan tangisan berlebihan atau monolog panjang; emosi disampaikan melalui dialog sehari-hari, tindakan kecil, dan keheningan yang bermakna. Inilah yang membuat momen-momen emosional terasa jauh lebih menusuk—karena terasa nyata, bukan dibuat-buat untuk menguras air mata.

Tema yang Lebih Dalam dari Sekadar Tragedi Remaja: Review Komik I Want to Eat Your Pancreas

Meski permukaannya terlihat seperti cerita cinta tragis remaja, I Want to Eat Your Pancreas menyentuh tema yang jauh lebih luas dan dewasa. Tema utama adalah tentang bagaimana menghadapi kematian yang sudah pasti—baik sebagai orang yang akan meninggal maupun sebagai orang yang ditinggalkan. Sakura tidak ingin hidupnya didefinisikan oleh penyakitnya; ia ingin tetap hidup normal, bersenang-senang, dan meninggalkan kenangan baik. Haruki, yang awalnya melihat hidup sebagai sesuatu yang “tak ada artinya”, perlahan belajar bahwa kehadiran seseorang bisa memberi makna meski hanya sementara.

Komik ini juga bicara tentang hubungan antarmanusia yang tidak selalu romantis—ikatan antara dua orang yang awalnya asing bisa menjadi sangat dalam dalam waktu singkat. Sakura mengajarkan Haruki untuk membuka diri, sementara Haruki menjadi pendengar dan saksi hidup bagi Sakura. Ada juga kritik halus terhadap sikap masyarakat yang sering kali menghindari topik kematian atau penyakit serius, serta bagaimana orang-orang di sekitar cenderung berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Ending cerita—yang tidak akan di-spoiler di sini—sangat terbuka dan penuh makna. Ia tidak memberikan penutup manis atau tragis berlebihan, melainkan meninggalkan pembaca dengan perasaan campur aduk: sedih, tapi juga bersyukur, dan yang terpenting, refleksi tentang nilai hidup sehari-hari.

Dampak Emosional dan Mengapa Tetap Relevan

Solanin dan karya-karya Inio Asano lainnya sering dibandingkan dengan Nana karena sama-sama menggambarkan kehidupan dewasa muda dengan sangat realistis. Namun Solanin lebih fokus pada satu momen krusial dalam hidup karakter, sementara Nana membentang lebih panjang dan kompleks. Bagi pembaca yang sudah melewati usia 20-an akhir, komik ini terasa seperti cermin: pertanyaan tentang karier yang stagnan, hubungan yang mulai goyah, dan rasa takut bahwa mimpi masa muda tidak akan pernah tercapai. Banyak yang mengaku menangis bukan karena adegan dramatis, melainkan karena dialog sehari-hari yang terlalu mirip dengan kehidupan mereka sendiri.

Komik ini juga sering dipuji karena tidak pernah meromantisasi depresi atau kegagalan—semua ditampilkan apa adanya, tanpa glorifikasi atau pesan motivasi murahan. Justru kejujuran itulah yang membuat Solanin terasa sangat menyembuhkan bagi sebagian pembaca: menyadari bahwa orang lain juga merasa stuck, juga ragu, juga takut, membuat beban terasa lebih ringan.

Kesimpulan

Solanin adalah komik yang sulit dilupakan karena keberaniannya menampilkan kehidupan dewasa muda apa adanya—tanpa filter manis, tanpa akhir bahagia paksa, tanpa pahlawan atau penutup rapi. Ia berhasil menggabungkan seni visual yang luar biasa, karakter yang sangat manusiawi, dan narasi yang realistis menjadi sebuah cerita yang terasa sangat pribadi bagi hampir setiap pembaca. Bagi yang sedang merasa stuck, ragu dengan pilihan hidup, atau bertanya-tanya tentang makna hubungan jangka panjang, komik ini seperti teman yang jujur—tidak selalu menghibur, tapi selalu mengerti. Meski sudah berlalu bertahun-tahun, Solanin tetap relevan karena bicaranya tentang hal-hal yang tidak pernah usai: mimpi yang tertunda, cinta yang rumit, dan pencarian makna di tengah rutinitas yang membosankan. Jika Anda belum membacanya, ini adalah salah satu manga yang benar-benar layak dialami—tapi siapkan hati, karena ceritanya akan tinggal lama di pikiran.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *