One Piece Vol 105 Satu kata itu mungkin mewakili perasaan jutaan penggemar One Piece di seluruh dunia saat memegang Volume 105 ini. Setelah empat tahun serialisasi (di dunia nyata) yang melelahkan, penuh drama, dan pertempuran kolosal di Onigashima, Arc Wano Kuni resmi berakhir. Eiichiro Oda menutup tirai panggung drama kabuki terpanjangnya dengan sebuah volume yang padat, emosional, dan penuh kejutan geopolitik.
Volume 105, yang sering disebut sebagai “Volume Transisi”, bukanlah sekadar epilog. Ia adalah jembatan monumentale yang menghubungkan satu dekade penceritaan pasca-Time Skip menuju apa yang disebut Oda sebagai “Final Saga”. Di sini, kita tidak melihat adu jotos melawan Kaido lagi, melainkan melihat dampak gelombang kejut dari jatuhnya dua Kaisar Laut (Yonko). Dunia One Piece bergolak, susunan kekuasaan dirombak total, dan Luffy akhirnya melangkah ke panggung sebagai salah satu dari Empat Kaisar Baru. Ini adalah volume di mana pembaca bisa menarik napas lega sekaligus menahan napas karena ketegangan baru yang mulai merayap.
Kaisar Baru: Buggy si Badut Jenius?
Sorotan terbesar dan paling menggelitik perut di volume ini tentu saja adalah pengumuman susunan Yonko yang baru. Luffy, Shanks, Blackbeard, dan… Buggy the Clown. Keputusan Oda untuk mengangkat Buggy—karakter yang secara kekuatan fisik jauh di bawah rata-rata—menjadi Kaisar Laut adalah puncak komedi dan kejeniusan narasi One Piece.
Namun, di balik lelucon itu, terdapat penjelasan yang masuk akal dan brilian: Cross Guild. Pengungkapan bahwa Crocodile dan Dracule Mihawk (pendekar pedang terkuat di dunia) berafiliasi dengan organisasi yang memberikan hadiah buronan (bounty) pada Angkatan Laut, dengan Buggy sebagai “pemimpin” bonekanya, adalah plot twist politik yang luar biasa. Dinamika di mana Mihawk dan Crocodile sebenarnya yang memegang kendali, tetapi membiarkan Buggy menjadi tameng untuk menarik perhatian Angkatan Laut, menunjukkan betapa cairnya konsep kekuasaan di dunia bajak laut. Oda sekali lagi membuktikan bahwa reputasi dan kesalahpahaman publik bisa menjadi senjata yang lebih berbahaya daripada Buah Iblis. (casino)
Selamat Tinggal Wano, Selamat Tinggal Yamato?
Salah satu kontroversi terbesar di kalangan penggemar yang terjawab di volume ini adalah nasib Yamato. Selama berbulan-bulan, penggemar berspekulasi bahwa “Putra Kaido” ini akan menjadi nakama (kru) ke-11 Topi Jerami. Namun, Oda melakukan manuver tajam. Yamato memutuskan untuk tidak langsung bergabung, melainkan berkeliling Wano terlebih dahulu, menelusuri jejak Oden.
Bagi sebagian pembaca, ini terasa seperti anti-klimaks atau “bait-and-switch”. Namun, jika dilihat dari perspektif karakter, keputusan ini masuk akal. Yamato baru saja bebas dari rantai fisik dan mental selama 20 tahun; ia butuh mengenal negerinya sendiri sebelum melihat dunia luar. Perpisahan Topi Jerami dengan Momonosuke dan Kin’emon justru menjadi momen emosional yang lebih kuat. Adegan Momonosuke yang menangis meraung-raung seperti anak kecil (mengingatkan kita bahwa ia fisiknya saja yang dewasa, mentalnya masih bocah 8 tahun) dan Luffy yang memberinya bendera Topi Jerami sebagai tanda perlindungan adalah penutup yang sempurna. Wano kini adalah teritori Luffy, sebuah pernyataan perang terbuka kepada siapa pun yang berani mengusiknya (termasuk Admiral Greenbull yang dipukul mundur oleh Haki jarak jauh Shanks).
Mimpi Luffy: Ujung dari Segalanya One Piece Vol 105
Judul volume ini sering dikaitkan dengan bab “Luffy’s Dream”. Ini adalah momen sakral. Di atas kapal Sunny Go yang sedang berlayar meninggalkan Wano, Luffy akhirnya mengungkapkan “Ujung Mimpinya” (The End of His Dream) kepada kru—mimpi yang sama persis dengan yang diucapkan Gol D. Roger kepada Oden dan Whitebeard.
Oda, dengan gaya khasnya, tidak memperlihatkan isi mimpi itu kepada pembaca. Kita hanya melihat reaksi kru: Usopp yang menganggapnya mustahil, Chopper yang kagum, dan Robin yang tertegun. Teknik penyembunyian ini justru membangun hype yang luar biasa. Kita tahu Luffy ingin menjadi Raja Bajak Laut, tapi itu hanyalah syarat untuk mencapai mimpi aslinya. Apakah itu pesta terbesar di dunia? Menghapus semua perbatasan? Dunia tanpa kelaparan? Spekulasi ini menjadi bahan bakar utama yang akan menjaga semangat pembaca menuju akhir cerita.
Gejolak Dunia: Lulusia dan Sabo
Sementara kru Topi Jerami bersantai, dunia di luar sana sedang terbakar. Volume 105 memperlihatkan sisi gelap Pemerintah Dunia yang semakin absolut. Kemunculan Imu-sama dan penghancuran Kerajaan Lulusia dalam satu serangan cahaya dari langit adalah demonstrasi kekuatan yang mengerikan.
Nasib Sabo, yang kini dijuluki “Kaisar Api” dan dianggap lebih populer daripada Dragon, menjadi pusat konflik revolusi. Oda dengan cerdas menaikkan taruhan: musuh terakhir bukan lagi sekadar bajak laut lain, tapi entitas yang mampu menghapus sebuah pulau dari peta sejarah dalam hitungan detik. Ini memberikan rasa urgensi bahwa “Game of Thrones” versi bajak laut ini sedang memasuki babak akhir yang mematikan.
Kesimpulan One Piece Vol 105
One Piece, Vol. 105 adalah volume yang terasa seperti hembusan angin segar setelah badai panjang. Temponya cepat, informasinya padat, dan emosinya tumpah ruah.
Meskipun ada sedikit kekecewaan mengenai keputusan Yamato bagi sebagian fans, volume ini berhasil menutup Arc Wano dengan hormat dan membuka gerbang menuju Egghead dan saga terakhir dengan penuh gaya. Melihat Luffy dalam wujud Gear 5 di sampul komik, tertawa bebas bersama para kaisar baru lainnya, kita sadar: Era Bajak Laut yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan seperti kata Shanks di volume ini: “Sudah saatnya kita mengambil One Piece.”